BRMP Sulawesi Barat Bergerak Identifikasi Sawah Terdampak Kekeringan di Polewali Mandar
POLEWALI MANDAR-Sebagai bentuk respons cepat terhadap ancaman kekeringan yang mulai berdampak pada sektor pertanian, Tim Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat melaksanakan identifikasi lahan sawah terdampak kekeringan di Kabupaten Polewali Mandar. Kegiatan ini dilakukan bersama para penyuluh pertanian di wilayah setempat untuk memperoleh data kondisi lapangan secara akurat sekaligus menentukan langkah penanganan yang paling efektif.
Identifikasi dilakukan dengan menyusuri sejumlah kecamatan yang menjadi sentra produksi padi, meliputi Kec. Binuang, Kec. Polewali, Kec. Matakali, Kec. Mapilli, Kec. Tapango, dan Kec. Campalagian. Tim turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi pertanaman, memetakan tingkat kekeringan, mengidentifikasi sumber air terdekat yang masih dapat dimanfaatkan, serta berdiskusi dengan penyuluh dan petani mengenai kondisi yang dihadapi di lapangan.
Berdasarkan hasil identifikasi, tercatat sekitar 704,50 hektare lahan sawah mengalami dampak kekeringan dengan tingkat keparahan yang memerlukan penanganan segera. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko puso apabila tidak segera dilakukan langkah-langkah mitigasi.
Menindaklanjuti hasil identifikasi tersebut, BRMP Sulawesi Barat bersama penyuluh pertanian bergerak cepat melakukan berbagai upaya mitigasi. Langkah pertama yang dilakukan adalah menelusuri dan mengidentifikasi sumber-sumber air terdekat yang masih memungkinkan dimanfaatkan untuk mengairi lahan sawah terdampak. Setelah sumber air ditemukan, tim merancang jalur penyaluran air yang paling efektif agar dapat langsung mengalir ke lahan pertanian yang membutuhkan.
Selain itu, BRMP Sulawesi Barat juga melakukan realokasi pompa bantuan Kementerian Pertanian dari lokasi yang tidak lagi memerlukan ke wilayah yang terdampak kekeringan, sehingga pemanfaatan pompa menjadi lebih optimal dan tepat sasaran. Upaya ini diharapkan mampu mempercepat distribusi air ke lahan-lahan yang mengalami kekurangan pasokan air.
Untuk memperkuat penanganan, tim juga menjalin koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah V Sulawesi terkait pemanfaatan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), serta berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah, penyuluh pertanian, dan petani dalam pelaksanaan mitigasi di lapangan. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat, efektif, dan berkelanjutan.
Tidak hanya berfokus pada penanganan darurat, BRMP Sulawesi Barat juga menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko kekeringan pada musim tanam berikutnya. Beberapa usulan yang disiapkan meliputi pembangunan Irigasi Perpompaan Air Tanah (IRPOM Air Tanah), Irigasi Perpipaan (IRPIP), serta program pompanisasi di lokasi-lokasi yang memiliki potensi sumber air namun belum didukung sarana irigasi yang memadai.
Melalui langkah-langkah tersebut, BRMP Sulawesi Barat menunjukkan komitmennya dalam mendampingi petani menghadapi dampak perubahan iklim. Diharapkan, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani mampu menjaga keberlangsungan usaha tani serta mempertahankan produksi padi di Kabupaten Polewali Mandar sebagai salah satu sentra pangan di Sulawesi Barat.(HR/NK)